Berkabarnews com, Kampar - Wartawati senior Hj Netty Mindrayani, SSos, MSi. menyatakan diri maju dan sudah mendaftar sebagai Bakal Calon (Bacalon) Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) kabupaten Kampar, yang akan digelar pada 15 Oktober 2026.
Netty, begitu dia biasa dipanggil, telah dikenal cukup luas oleh berbagai kalangan di Kabupaten Kampar, baik di jajaran Pemerintah Daerah Kabupaten Kampar, instansi vertikal, kalangan swasta, organisasi masyarakat maupun organisasi partai politik.
Hal itu tak terlepas dari kiprah Netty di dunia jurnalisme dan masa tugasnya di Kabupaten Kampar yang telah memasuki angka 27 tahun.
Netty lahir di Baturaja, Sumatera Selatan pada 2 Maret 1973 atau saat ini berusia 53 tahun, usia yang boleh dikatakan sudah memasuki usia matang secara emosional dan berpikir.
Meski lahir di Sumsel namun lebih dari separuh usianya ia habiskan di Kabupaten Kampar dan Kampar telah menjadi kampung halamannya, ditambah lagi semua saudaranya juga memilih menetap dan di Kabupaten Kampar dan menjadi warga Kabupaten Kampar.
Netty bukan wartawan “kemarin sore”. Netty muda sudah mondar mandir dari satu titik acara ke acara lainnya dan dari satu lokasi objek ke lokasi lainnya demi mendapatkan sebuah informasi, guna diketik menjadi berita yang akan dikonsumsi publik.
Memulai karier sebagai wartawan di tahun 1999 sudah barang tentu Netty sangat merasakan beberapa jenis peralatan yang mendukung kerjanya sebagai wartawan. Dari zaman tape recoder portabel atau perekam kaset, laluberganti ke handphone (hp) jadul (zaman dulu red), hingga hp pintar (Smartfren phone) yang cukup canggih saat ini.
Ia memulai karir sejak zaman masih menggunakan mesin tik yang beritanya dikirim melalui fax ke kantor redaksi di Pekanbaru, hingga era mengirim berita melalui email di warung internet (Warnet) dan era serba simpel dengan pengiriman berita maupun foto dan vidio cukup melalui sebuah aplikasi di hp saat ini.
Ia tercatat telah bekerja di beberapa media yang pada akhirnya dipercaya sebagai wartawati di Kantor Berita ANTARA sejak Desember 2011.
Diterimanya ia di LKBN ANTARA karena sepak terjangnya dalam menyajikan informasi adalah tercepat dan terakurat, sehingga kepala biro ANTARA Riau memintanya menyampaikan lamaran.
"Saya diminta mengantarkan lamaran ke kantor ANTARA di Pekanbaru. Setelah kepala biro membaca Curiculum Vitate saya, beliau mengatakan bahwa mba ini dilamar bukan melamar, tidak gampang bisa masuk ANTARA," kata Netty menceritakan pengalamannya.
Karena masuk dalam wartawan “jadul”, Netty juga telah merasakan wawancara dengan beberapa bupati dan penjabat (Pj) bupati yang berbeda, dimulai dari era Saleh Djasit yang berlanjut ke Beng Sabli, Syawir Hamid, Jefry Noer, Rusli Zainal, Burhanudin Husin, balik lagi ke Jefry Noer, Syahrial Abdi, Alm Azis Zaenal, Catur Sugeng Susanto, Kamsol, Firdaus, Hambali hingga kepemimpinan Kampar saat ini Ahmad Yuzar.
Menurut beberapa insan pers dan narasumber yang acap diwawancarainya, Netty adalah salah satu wartawan yang gesit, ulet dan teguh dengan prinsipnya agar berita yang disajikan tetap memegang erat kode etik jurnalistik.
Alumni D3 STPMD APMD Yogyakarta ini, selalu berusaha membuat berita dari hasil karya sendiri. Beritanya tidak melulu informasi dari sepihak, misalnya dari Pemda saja, tetapi ia juga kerap mengangkat persoalan atau realita di masyarakat.
Berita yang kritis namun tetap menjunjung kaidah kode etik jurnalistik, salah satunya berita harus berimbang dan ada upaya agar dari pemberitaan ini ada solusi.
Soal kemampuan berkomunikasi, lulusan Pasca Sarjana Universitas Islam Riau (UIR) tahun 2024 dan lulusan S1 Fisipol Unmer Malang (1997) tak diragukan lagi.
Meskipun wartawan selalu dikejar-kejar deadline (batas waktu pengiriman berita), namun sosok penyayang kucing ini telah malang melintang aktif di berbagai organisasi sosial kemasyarakatan.
Berkat pergaulan dan jalinan komunikasi dengan berbagai pihak, Netty tercatat aktif beberapa organisasi baik organisasi sosial, organisasi perempuan, hingga organisasi majelis taklim.
Diantara organisasi tempat pengabdiannya yakni sebagai Humas Tim Penggerak PKK Kabupaten Kampar, Himpaudi (Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia) Kampar, PAUD, KKKS, Wakil Ketua Bidang Abdimas/ Kehumasan Kwarcab Pramuka Kampar, Humas Forki (Federasi Olahraga Karate Indonesia), Anggota KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) Kabupaten Kampar, Ketua Majelis Taklim Desa Salo dan Kepala Sekolah Lansia BKMT Salo.
Istri dari Kamal Farhan ini juga pernah dipercaya sebagai Tenaga Ahli Fraksi di Partai Demokrat DPRD Kampar pada 2022-2024.
Selain itu, Netty yang berlatar belakang keluarga yang selalu mengutamakan pendidikan, juga tercatat pernah menjadi tenaga pengajar di kampus Universitas Lancang Kuning.
Bicara organisasi PWI, Netty merupakan salah satu wartawati senior yang ikut membidangi terbentuknya PWI Kabupaten Kampar dan telah menempati beberapa posisi strategis di beberapa periode kepengurusan PWI Kampar.
Pada periode pertama dan kedua kepengurusan PWI Kabupaten Kampar dibawah kepemimpinan Ketua Hermansyah, SAg tahun 2001-2008, wanita ini dipercaya sebagai Wakil Ketua Bidang Pembelaan Wartawan.
Kemudian pada periode kepemimpinan Marhaliman, SE, MM Netty dipercaya sebagai Bendahara tahun 2008-2011 dan kepercayaan di jajaran KSB (Ketua, Sekretaris, Bendahara red) berlanjut ketika periode 2011-2014 dipimpin
Mawardi, SAg. Saat itu Netty dipercaya sebagai sekretaris.
Selanjutnya dimasa dua periode kepemimpinan Akhir Yani, SE, yakni periode 2017-2020 dan 2020-2023 sosok yang dikenal tegas dan disiplin ini diamanahkan sebagai penasehat.
Memutuskan ikut maju dalam pemilihan ketua PWI Kampar menurut Netty bukanlah keputusan yang mudah. Sebab ia menyadari jabatan ini cukup berat karena PWI adalah sebuah organisasi profesi wartawan yang lahir berbarengan dengan kemerdekaan negara Indonesia tahun 1946 silam..
Di pundak ketua, beban tanggungjawab dipikul agar para anggota tetap melahirkan karya jurnalistik yang berkualitas dan sesuai kode etik jurnalistik. Jika produk pers para wartawan di PWI bermasalah, maka nama organisasi besar ini yang menjadi taruhannya.
Belum lagi mengenai kondisi pers saat ini di Kabupaten Kampar dengan banyaknya jumlah wartawan dengan berbagai macam cara, perilaku dan tindak tanduknya. Masyarakat banyak yang tidak tahu bahwa tidak semua wartawan itu bergabung dengan organisasi PWI.
Ketika ditanya sejumlah rekan pers sebelum ia mendaftar sebagai bakal calon, dengan singkat, sesuai visinya, Netty menjawab bahwa ia maju untuk memperkuat persatuan dan membangkitkan nama baik PWI.
“Sebagai salah seorang pendiri PWI Kampar, saya juga ingin melakukan pembinaan kader-kader PWI agar menjadi jurnalis berkualitas dan profesional dan bermartabat,” ujar Netty kepada sejumlah wartawan, Jumat (2/1/2026).
Netty ingin bertekad memperkuat persatuan diantara wartawan, terkhusus di PWI Kampar.
Ia ingin seluruh wartawan di PWI Kampar bersatu, meramaikan kembali gedung PWI Kampar. Ia ingin melihat seluruh wartawan meramaikan setiap agenda dan iven PWI Kampar, PWI Riau maupun PWI Pusat.
Di samping itu, wanita yang hobi bereksperimen, makan telor dadar dan makanan khas serta memasak kue itu ingin mengembalikan nama baik PWI Kampar. Ia ingin pengurus dan anggota PWI Kampar kembali aktif di berbagai kegiatan, baik kegiatan internal maupun kegiatan bersama stake holder baik pemda, swasta, organisasi dan kegiatan di tengah masyarakat.
Apalagi PWI Kampar sudah memiliki gedung sendiri yang sukses dibangun pada periode 2017-2020 dan 2020-2023 dimasa kepemimpinan Akhir Yani sehingga bisa membuat berbagai kegiatan di gedung yang menurutnya belum difungsikan maksimal tersebut
Satu hal yang sangat penting sekali adalah meningkatkan kesejahteraan wartawan di mana Netty ingin meneruskan cita-citanya agar seluruh wartawan di PWI Kampar bisa sejahtera.
Berbagai langkah strategis untuk hal itu telah dirumuskannya dalam misi yang akan dia sampaikan ketika lolos dalam penjaringan bakal calon ketua PWI Kampar nantinya.
Salah satu buah pemikirannya adalah ingin PWI Kampar memiliki unit usaha. Satu hal yang telah dilakukan Netty di periode 2020-2023 adalah telah membentuk Kelompok Tani PWI. Namun saat itu usaha yang dijalankan belum membuahkan hasil.**/ril
Komentar Anda :